Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS RBI Pustaka
● online
CS RBI Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS RBI Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Buka Hari Senin - Jumat 08:00 – 16:00 WIB
  • 🎁 GRATIS DESAIN COVER! Untuk setiap pemesanan cetak buku di RBI Pustaka, dapatkan layanan desain cover GRATIS! 🤩📘
  • 📢 PROMO SPESIAL! Cetak buku di RBI Pustaka diskon hingga 20%! 🎉 Jangan lewatkan kesempatan ini. Hubungi kami sekarang! 📚✨
  • 🎁 KEJUTAN PROMO! Dapatkan berbagai bonus menarik untuk setiap penerbitan dan cetak buku di RBI Pustaka! Yuk, terbitkan karyamu sekarang! 🚀📚
  • 📢 PROMO TERBATAS! Cetak buku di RBI Pustaka sekarang dan dapatkan keuntungan lebih! 📚✨ Hubungi kami segera!
Beranda » Blog » Strategi Menumbuhkan Minat Baca Anak Gen Z yang Akrab dengan Gawai

Strategi Menumbuhkan Minat Baca Anak Gen Z yang Akrab dengan Gawai

Diposting pada 12 November 2025 oleh Adminrbi / Dilihat: 133 kali / Kategori:

​RBI Pustaka – Generasi Z (Gen Z), yang lahir kira-kira antara tahun 1997 hingga 2012, adalah generasi pertama yang sepenuhnya tumbuh di tengah revolusi digital. Bagi mereka, gawai (gadget), internet berkecepatan tinggi, dan media sosial bukanlah barang baru, melainkan perpanjangan tangan dalam kehidupan sehari-hari. Intensitas penggunaan gawai ini, sayangnya, sering kali dikaitkan dengan menurunnya minat baca, terutama buku fisik yang dianggap “kuno” atau kurang menarik dibandingkan konten visual dan interaktif yang ditawarkan layar.

​Namun, menganggap Gen Z “tidak suka membaca” adalah pandangan yang terlalu sederhana. Mereka mungkin tidak lagi membaca novel tebal atau ensiklopedia cetak, tetapi mereka membaca sangat banyak—mulai dari caption di Instagram, utas di X (Twitter), fanfiction di Wattpad, hingga ulasan produk di TikTok.

​Tantangannya bagi para orang tua dan pendidik bukanlah melawan gawai, melainkan memanfaatkan medium digital tersebut untuk menjembatani dan menumbuhkan minat baca yang lebih mendalam, terstruktur, dan kritis.

​Mengapa Buku Fisik Kehilangan Daya Tarik?

​Sebelum merumuskan strategi, penting untuk memahami mengapa Gen Z cenderung menghindari buku fisik:

​Imbalan Instan (Instant Gratification)

Konten digital menawarkan scroll tanpa akhir dan feedback (suka, komentar) yang cepat, memuaskan kebutuhan dopamin secara instan. Membaca buku fisik membutuhkan konsentrasi jangka panjang tanpa feedback langsung.

​Keterbatasan Sensorik

Buku fisik hanya melibatkan mata dan sentuhan (kertas). Gawai menawarkan multimedia, audio, video, dan interaktivitas yang jauh lebih kaya.

​Fear of Missing Out (FOMO)

Waktu yang dihabiskan untuk membaca buku adalah waktu yang hilang dari interaksi sosial di dunia maya, membuat mereka merasa tertinggal dari tren atau percakapan teman sebaya.

​Budaya Visual

Gen Z adalah generasi yang dibesarkan dengan konten video pendek (seperti YouTube Shorts atau TikTok), yang melatih otak untuk memproses informasi secara visual dan cepat, bukan melalui deskripsi panjang berbasis teks.

Strategi Transformasi: Membaca Bukan Berarti Melawan Gawai

Untuk menumbuhkan minat baca pada anak Gen Z, kita harus mengadopsi pendekatan yang holistik, fleksibel, dan yang terpenting, mengakui realitas digital mereka.

​1. Memanfaatkan Platform Digital sebagai Jembatan

​Langkah pertama adalah mengakui bahwa membaca tidak harus selalu berupa buku fisik. Manfaatkan gawai sebagai gerbang menuju literasi:

Pindahkan ke E-book dan Audiobook: Berikan akses ke layanan e-book atau audiobook. Bagi Gen Z, membaca di layar Kindle atau mendengarkan buku saat bepergian (multitasking) seringkali lebih disukai daripada membawa buku fisik. Ini memanfaatkan perangkat yang sudah mereka pegang.

​Gunakan Fanfiction dan Webnovel: Alih-alih melarang, arahkan mereka ke platform yang fokus pada cerita berbasis teks seperti Wattpad atau Storial. Banyak novel terlaris saat ini berawal dari webnovel. Ini memanfaatkan ketertarikan mereka pada cerita yang dikembangkan secara kolaboratif dan serial.

​Literasi Melalui Social Reading: Ajak anak bergabung dengan komunitas membaca online (seperti Goodreads, atau grup diskusi buku di Discord/Telegram). Ini memenuhi kebutuhan sosial mereka sambil membahas materi bacaan.

2. Menghubungkan Buku dengan Budaya Populer

Gen Z sangat responsif terhadap tren dan budaya populer. Hubungkan buku dengan media yang sedang mereka konsumsi:

Book-to-Screen Connection: Cari buku yang telah atau akan diadaptasi menjadi serial di Netflix atau film bioskop (misalnya, The Hunger Games, Harry Potter, atau novel fantasi populer). Tantang mereka untuk membaca buku aslinya sebelum menonton adaptasinya.

​Integrasi Fandom: Jika mereka menyukai suatu fandom (misalnya K-Pop, anime, atau game tertentu), carilah buku nonfiksi atau novel yang membahas sejarah, mitologi, atau psikologi di balik minat mereka tersebut.

​BookTok dan Bookstagram: Ajak mereka mengikuti influencer buku di TikTok (BookTok) atau Instagram (Bookstagram). Melihat orang lain seusia mereka bersemangat membahas buku bisa memicu rasa ingin tahu dan validasi sosial.

3. Ciptakan Lingkungan yang Mendorong Eksplorasi

Meskipun gawai memainkan peran besar, lingkungan fisik tetap krusial dalam menanamkan kebiasaan:

Model Perilaku Membaca: Orang tua harus menjadi model. Anak Gen Z cenderung meniru apa yang dilakukan orang dewasa, bukan hanya apa yang diucapkan. Sisihkan waktu membaca bersama (masing-masing dengan bukunya) sebagai bagian dari rutinitas keluarga.

Zona Bebas Gawai: Tentukan waktu atau area tertentu di rumah (misalnya, kamar tidur setelah jam 9 malam) sebagai “zona bebas gawai” dan gantikan dengan aktivitas seperti membaca buku, jurnal, atau komik.

​Biarkan Mereka Memilih: Jangan memaksakan genre klasik atau yang Anda anggap “bermutu.” Biarkan mereka memilih apa pun yang menarik perhatian mereka, entah itu komik, manga, graphic novel, atau buku self-help. Tujuan utamanya adalah membangun rasa senang saat berinteraksi dengan teks yang panjang.

4. Keterampilan Membaca Kritis (Literasi Kritis)

Inti dari literasi adalah kemampuan untuk menganalisis dan mengevaluasi teks, bukan sekadar kemampuan merangkai kata. Hal ini sangat penting di dunia digital yang penuh hoaks dan konten bias:

Diskusi Kritis: Setelah membaca berita online atau artikel, ajak anak berdiskusi: “Apa sudut pandang penulisnya? Apakah sumber ini kredibel? Ada fakta apa yang mungkin dihilangkan?” Ini melatih literasi kritis yang melampaui media fisik atau digital.

Beralih dari Scanning ke Deep Reading: Banyak membaca di gawai menyebabkan kebiasaan scanning (membaca cepat untuk poin utama). Dorong mereka untuk kembali ke deep reading (membaca mendalam) dengan meminta mereka membuat ringkasan, membuat peta pikiran, atau menulis ulasan singkat tentang apa yang baru saja mereka baca.

Merangkul Fleksibilitas Definisi Membaca

​Menumbuhkan minat baca pada Gen Z adalah maraton, bukan lari cepat. Ini membutuhkan kesabaran, fleksibilitas, dan yang terpenting, pengakuan bahwa definisi “membaca” telah berevolusi. Membaca hari ini bisa berarti mendengarkan audiobook sambil bermain game ringan, atau menganalisis alur cerita webtoon kesukaan mereka.

​Dengan mengintegrasikan gawai—bukannya memeranginya—dan menyediakan lingkungan yang mendukung, kita dapat memastikan bahwa Gen Z tidak hanya menjadi generasi yang mahir menggunakan teknologi, tetapi juga generasi yang kritis, empatik, dan memiliki landasan literasi yang kuat, siap menghadapi kompleksitas informasi di masa depan.

Tags: ,

Bagikan ke

Strategi Menumbuhkan Minat Baca Anak Gen Z yang Akrab dengan Gawai

Saat ini belum tersedia komentar.

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan kami publikasikan. Kolom bertanda bintang (*) wajib diisi.

*

*

Strategi Menumbuhkan Minat Baca Anak Gen Z yang Akrab dengan Gawai

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: